Saatnya mengumumkan pemenang dari giveaway ini! Late, I know.. but better late than never, right?
Pemenangnya adalaaaah... dung dung dung!
Selvia Sari, selamat kamu mendapatkan satu buku karangan Karla M Nashar.
Muhammad Rifqi Saifudin, selamat kamu mendapatkan satu buku karangan Donny Dhirgantoro.
Nurnajmi Pratiwi, selamat kamu mendapatkan satu buku karangan Karen Yampolsky.
Reni Judhanto, selamat kamu mendapatkan satu buku karangan BJ Habibie.
Untuk semua pemenang akan dihubungi lewat email ya! Terima kasih untuk semua peserta, tunggu giveaway selanjutnya ya!
Books of Dela
Sunday, April 28, 2013
Wednesday, April 24, 2013
Close Up Interview Anggota Blogger Buku Indonesia
Saking banyaknya anggota Blogger Buku Indonesia, jujur saya nggak apal satu persatu dan blog mereka satu persatu juga. Keterbatasan waktu membuat saya nggak rutin blogwalking dan akhirnya beberapa dari mereka pun terlupakan. Untunglah dalam rangka ulang tahun BBI kedua ini, BBI mengadakan acara "Close Up Interview (CUI)" dimana anggota BBI mewawancarai anggota lainnya agar bisa mengenal lebih dekat.
Untuk kesempatan ini, saya kebagian mewawancara Melisa dari Surgabukuku. Saya jujur lupa dengan blognya sampai saya membuka url-nya dan menemukan quote yang dulu sangat saya suka, tetapi saya lupa membaca dimana.
I have always imagined that paradise would be some kind of library - Jorge Luis Borges
Oh! Ternyata waktu itu saya membaca quote ini dari blog-nya Melisa. Tuh kan, ternyata CUI ini berguna sekali untuk mempertemukan saya dengan blog yang lama sekali udah nggak saya kunjungi.
Deg-degan awalnya, meng-interview orang yang belum kita kenal sama sekali. Setelah bertegur sapa lewat twitter, dan email-emailan, inilah hasil wawancara saya dengan Melisa.
![]() |
| Say hi from Melisa.. |
Coba deskripsikan
Melisa dalam kurang lebih 20 kata.
Seorang perempuan berumur twenty-something, yang
suka banget baca novel klasik. Belakangan ini ingin memperbanyak baca karya
sastra Indonesia dan buku rohani, tapi sepertinya baru bisa dijalankan tahun
depan… L
Masih inget
nggak pengalaman pertama Melisa dengan buku, kapan mulai belajar membaca, menyukai
membaca, dan buku pertama apa yang dibaca?
Kapan tepatnya nggak ingat, cuma masih ingat yang
pertama-tama dibaca itu Majalah Bobo, Donal Bebek, kumpulan dongeng/fairy
tales, buku bergambar yang diambil dari film-film Disney, dan cerita anak Tini
yang gambarnya cantik banget. Pokoknya dari kecil sudah suka baca, deh... J
Siapa pengarang
favorit Melisa dan kenapa?
Banyak nih, gak bisa nyebutin 1 aja! Yang
kontemporer J.K. Rowling, Mitch Albom, dan Kate DiCamillo, kalo yang klasik
Victor Hugo, Thornton Wilder, Leo Tolstoy, dan Frances Hodgson Burnett. Di luar
nama-nama ini, sebenarnya masih banyak yang lain, hehehe... Alasannya, mereka
semua amazing dengan gaya menulis masing-masing.
Sejauh ini apa buku favorit Melisa dan kenapa?
Les Miserables-nya Victor Hugo, karena bikin emosi
teraduk-aduk. Baca buku ini bisa bikin merasa bahagia banget dan sekaligus
merana banget. Suka penggambaran penulis tentang kesempatan kedua dan kekuatan
cinta kasih kepada sesama.
Terus sekarang buku apa yang saat
ini sedang dibaca?
Lagi baca ulang Harry
Potter and the Goblet of Fire buat event Hotter Potter. J
Buku apa yang
sudah lama ingin dibaca tapi sampai saat ini belum sempat dibaca?
Huaaaaa, ini juga banyak. Diantaranya 3 bukunya
Jostein Gaarder (Dunia Sophie, Gadis Jeruk dan Cecilia dan Malaikat Ariel),
Sense and Sensibility-nya Jane Austen, Diary of A Young Girl-nya Anne Frank,
Winnie-the-Pooh, seri Selamat-nya Andar Ismail, seri Chronicles of Narnia (dulu
cuma baca sampai buku ke-2 lalu mandek), dan masih banyak lagi... (persis album
kompilasi) (kalau saya lanjutkan jadi makin panjang)
Jika Melisa
seorang penulis, buku seperti apa yang ingin kamu tulis?
Kalau non fiksi, saya ingin menyusun buku semacam
1001 Books You Must Read Before You Die versi Indonesia, buat 3 kategori:
Anak-anak, Remaja, dan Dewasa. Tujuannya supaya orang Indonesia semakin cinta membaca dan buku itu
bisa jadi referensi buat masyarakat Indonesia . Tapi, di dalamnya juga
harus ada buku-buku sastra Indonesia
dong, yang berarti saya juga harus banyak baca buku sastra Indonesia
sebelum bisa merealisasikan cita-cita ini. Kalau fiksi saya ingin nulis fiksi
sejarah untuk remaja. (biar mereka nggak cuma baca teenlit yang cinta-cintaan
doang!)
Seandainya Melisa menjadi produser film atau tv series,
kira-kira buku apa yang ingin Melisa adaptasi?
Ingin bikin serial atau miniseri untuk anak-anak
deh. Mungkin diangkat dari buku The Penderwicks. Alternatif lain, kan banyak
cerpen klasik yang bisa diadaptasi jadi film tuh. Misalnya The Gift of
the Magi-nya O. Henry (favoritku) dan cerpen-cerpen horornya Edgar Allan Poe.
Selain blog yang berisi review buku, apakah Melisa
memiliki blog lainnya?
Ada... di http://melmarian.wordpress.com.
Tapi jarang diupdate, isinya bener-bener ”random” seperti judul blognya, ”Random
Thoughts of Melmarian”, banyak curcol dalam bentuk puisi, tapi nggak semuanya
bisa diakses publik. (malu euy) :D
Kalau misalnya
bisa bertemu dengan penulis/pengarang favorit dan hanya bisa menanyakan satu
pertanyaan saja, pertanyaan apa yang ingin ditanyakan?
Sebenarnya bukan penulis favorit sih, tapi
seandainya saya bisa ketemu Emily Bronte, saya mau menyelidiki apakah si Emily
punya kelainan jiwa atau nggak. (Eh jadinya nggak cuma satu pertanyaan dong ya?
Hahahah.) Karena satu-satunya novel yang pernah ditulisnya, Wuthering Heights,
berpotensi bikin pembacanya sakit jiwa.
Pernah kehilangan
satu buku dan ingin membelinya lagi tapi sudah tidak diterbitkan lagi? Buku apa
itu?
Begini ceritanya, karena saya aktif pelayanan di
gereja sebagai pengurus komunitas remaja, kadang-kadang mereka (anak remaja)
suka pinjam buku ke saya. Sebenernya seneng-seneng aja sih minjemin buku ke
mereka, itung-itung menularkan cinta membaca. Nah, ada salah satu anak yang
meminjam buku saya yang berjudul Perjalanan Mata dan Hati. Buku itu adalah
kumpulan cerpen karya Prima Rusdi yang pernah diterbitkan di majalah CosmoGIRL!
saat saya masih remaja dulu *tsaaah. Sampai sekarang, sedihnya, buku itu tak
pernah kembali kepada saya dan yang meminjam pun udah bak ditelan bumi. Bagi
saya, cerpen-cerpen yang ada di buku tersebut mengena banget buat remaja
(putri) khususnya, dan iya, buku itu sudah tidak dicetak lagi. Kalau ingat buku
ini masih sakit hati rasanya, huhuhu! L
Link review Perjalanan Mata dan Hati: http://surgabukuku.wordpress.com/2010/11/24/perjalanan-mata-dan-hati/
Siapa karakter
favorit dari buku dan kenapa?
Suka banget sama karakter Jane Eyre dari buku
berjudul sama karangan Charlotte Bronte. Memang kisah Jane Eyre ”nafas”nya
feminis, tapi saya merasa karakter Jane sangat membumi dan ia dikisahkan bukannya
mau mengalahkan kaum pria, tapi berjuang
supaya ia bisa menjadi seorang perempuan yang merdeka dalam berpikir maupun
bertindak. Salah satu quote dari buku tersebut: “I am no bird; and no net ensnares me: I am a free human being with an
independent will.” Ah, jadi pengen baca ulang! Ada satu fakta menarik,
Charlotte Bronte penulis buku ini, lahir pada tanggal 21 April, sama seperti
Raden Ajeng Kartini.
Punya toko buku favorit, online maupun offline?
Bookdepository.com (atau
.co.uk) yang free ongkir nyaris ke seluruh dunia, dan punya
koleksi novel klasik yang murah meriah (dari harga sekitar USD 3 aja sudah bisa
dapat 1 buku). Selain itu, kalau beli buku di Bookdepository, bakal dapet
bookmarks yang collectible (sayangnya kadang-kadang nggak dapet juga). Memang
kalau beli buku di Bookdepository harus menunggu sekitar sebulan atau malah
lebih, tapi sejauh ini toko buku online ini tetap yang masih favorit.
Yang
terakhir, harapan Melisa untuk BBI kedepannya?
Semoga BBI ke depannya bisa semakin menjadi acuan
bagi calon pembaca & pembeli buku, bahkan yang bukan blogger sekalipun. Kalau
bisa di toko-toko offline ada komputer yang bisa mengakses blog-blog buku gitu.
Kalau di toko buku online ada blogroll yang mengarah ke alamat URL blog-blog
buku. Dan semoga BBI juga bisa mendorong semakin banyak orang Indonesia supaya
cinta membaca, terutama sih generasi muda. J
That's it! Buat yang mau lebih kena Melisa, bisa juga mampir ke alamat ini: http://surgabukuku.wordpress.com/2012/07/06/answering-21-questions-about-me/
J
Sampai juga lagi. Thank you Melisa yang sabar jawabin pertanyaan saya yang beruntun. J
Saturday, April 13, 2013
BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop
Hihihihi, nggak kerasa udah dua tahun berlalu sejak BBI pertama didirikan. Happy 2nd anniversary Bebi sayang!
Walaupun saya harus mengakui kalo saya adalah salah satu anggota Bebi yang nakal karena sedikit sekali postingannya (sorry, life happens man!), tapi untuk menunjukkan rasa sayang saya ke Bebi, dalam rangka ulang tahun Bebi yang kedua ini, saya akan menyelenggarakan giveaway bersama-sama dengan anggota Bebi yang lainnya. Yay!
Untuk teknis pelaksanaannya nggak ribet-ribet sih, yang mau ikutan tinggal ikutan langkah-langkah dibawah ini ya..
- Tinggalin komen di posting ini dengan mencantumkan nama, email, ucapan selamat ulang tahun untuk Bebi dan id twitter (apabila ada).
- Untuk yang memiliki id twitter, bisa mengucapkan selamat ulang tahun untuk Bebi dengan format:"(ucapan selamat ulang tahun) (spasi) @BBI_2011 @deladacrea"
- Waktu giveaway adalah dari 13 April 2013 sampai dengan 26 April 2013.
- Pemenang akan diumumkan pada tanggal 27 April 2013.
Untuk pemenang yang beruntung akan mendapatkan buku-buku dibawah ini.
![]() |
|
|
Jadi bukan cuma satu, tapi bakal ada empat orang yang beruntung yang bakal dapat buku-buku diatas ini. Jadi tunggu apalagi, buruan ikutan dan bikin ucapan selamat seunik mungkin buat Bebi ya.. See you on April 27th ya!
Update.
Mau tahu asyiknya apalagi di perayaan ulang tahun BBI ini? Bukan cuma saya yang menyelenggarakan giveaway, tapi banyaaaaak blogger buku lainnya. Ayo berburu buku gratis dari link yang ada di bawah ini. :)
Update.
Mau tahu asyiknya apalagi di perayaan ulang tahun BBI ini? Bukan cuma saya yang menyelenggarakan giveaway, tapi banyaaaaak blogger buku lainnya. Ayo berburu buku gratis dari link yang ada di bawah ini. :)
Labels:
giveaway
Sunday, April 7, 2013
A Very Yuppy Wedding - Ika Natassa
The life of a business banker is 24/7, dan bagi Andrea, banker muda yang tengah meniti tangga karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang meninjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?
Not really. Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada Manolo Blahnik atau Zara atau Braun Buffel yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.
Welcome to the world of Andrea Siregar, the woman with the most rational job on the planet as she is making the most irrational decisions in her own personal life.
Do I love this book?
Hell yes! Hahaha, sebenarnya saya udah baca buku ini sejak beberapa tahun yang lalu, bersamaan dengan saya membaca Divortiare, buku karangan novelis yang sama. Makanya waktu Ulang Tahun GPU kemaren, dan box set-nya Ika Natassa dijual dengan diskon 40%, saya nggak mau ketinggalan dong buat beli, hehehe..
Alasan pertama kenapa saya suka buku ini karena tokoh utamanya banker! Dangkal? Yes. Hehe, pekerjaan Andrea sebagai relationship manager (baca: tukang kredit) salah satu bank di Indonesia benar-benar membuat saya bisa memahami segala keribetan dia dalam mengelola debitur, walaupun segmen dia korporasi sementara saya usaha kecil, tapi so far job desc-nya sama lah, jadi sering banget tuh saya lagi baca satu halaman dan bilang, "Iya, bener gila.. itu gue banget.", "Emang tuh debitur banyak maunya.." "Bos reseeek.." :))))) Dan nggak bisa nikah sama temen sekantor? Beuh. (not that I'm intrigued ya, I've already married with temen sekantor yang dulu, hahaha..)
Setiap novel Ika Natassa punya satu ciri khas yang sangat menonjol. Tokoh cowok yang bikin kita jatuh cinta setengah mati sama dia. Cakep, perhatian, rajin salat, karir bagus. Dan tanpa sadar, itu bikin kita (baca: cewek-cewek pembaca yang manis dan budiman) root for him. Dan ngenye-ngenyein tokoh ceweknya. Sekarang siapa sih yang nggak kesel, udah dikasi calon suami yang perfect-nya alaihim gambreng, si Andrea masih bikin segalanya jadi complicated, nuduh Adjie selingkuh, sok-sokan demi kerjaan boong sama calon suaminya beberapa minggu sebelum mereka nikah. Duh, big big mistakes.
Tapi segala konflik dan drama itu emang dibutuhkan dalam suatu novel kan, biar kita gregetan dan pingin nyekek si Andreanya? :)) Nggak ding, walaupun kadang dialog yang disajikan berlebihan (menurut saya), karakter yang ditampilkan juga terlalu berlebihan sih, irritating much, dan (serasa) bikin perkawinan itu hal yang tidak menyenangkan (it needs hard work indeed, tapi si Andrea ini sebenarnya cinta nggak sih sama Adjie sampe pengorbanan dikit aja nggak bisa dilakukan, grrr..), tapi mungkin itu biar emosinya bisa ketangkap kali ya. Trus emang ada ya karakter yang flawless kayak Adjie gitu? Terus scene terakhir yang fast forward membuat saya "Eh, udah nih, segitu aja? Baekan ni jadinya?". Ada blank page aja rasanya.
Over all, I'm enjoying this book like I'm enjoying all chicklits I've ever read, buktinya baca buku ini sekali jalan beres. Buat analis kredit slash relationship manager semua bank di Indonesia, coba deh baca buku ini! :D
PS. I know for sure, Adjie is supposed to be Jawa tulen, but why oh why I keep thinking of Aiden Mathis while reading about him?
Sunday, February 3, 2013
AMBA by Laksmi Pamuntjak
I had no idea about this novel, tapi setiap kali ke toko buku, suami selalu tertarik liat novel ini, terus, terus dan terus, sampai akhirnya suatu hari dia pulang bawa novel ini. Nggak aneh juga sih kalo misalnya dia tertarik sama novel ini, karena pada dasarnya suami saya itu adalah pencinta kisah Mahabharata. Di dalam kisah Mahabharata sendiri, Amba merupakan seorang putri Raja yang jatuh cinta dengan Raja bernama Salwa. Salwa yang awalnya akan menikahi Amba, dikalahkan Bhisma dalam satu sayembara, dimana Bhisma sendiri sedang mencarikan istri untuk adiknya, Wicitrawirya, Raja Astinapura. Amba pada akhirnya tidak menikah dengan siapapun karena dia ditolak oleh Salwa, dan Bhisma pun tidak mau menikahinya karena sudah berjanji akan hidup selibat, sedangkan Wicitrawirya akhirnya menikahi adik kembar Amba, Ambika dan Ambilika. Amba pun mati secara tidak sengaja oleh pedang Bhisma dan mengalami reinkarnasi menjadi Srikandi yang pada akhirnya nanti akan membunuh Bhisma dalam perang Baratayudha.
Tragis ya?
Suami saya menggemari cerita Mahabharata, sehingga dia penasaran apa hubungannya cerita tersebut dengan Amba-nya Laksmi Pamuntjak ini? Apalagi tokoh-tokoh yang ada di novelnya ini serupa dengan yang ada di Mahabharata. Ternyata setelah saya baca (akhirnya saya duluan pula yang menyelesaikan novel ini).,ceritanya berbeda dengan yang ada di Mahabharata, tapi tidak kalah menarik!
Sinopsis
Amba, seorang anak guru di Kadipura, Jawa Tengah. Memiliki dua adik kembar bernama Ambika dan Ambilika. Ayahnya gemar membaca kitab-kitab Jawa, salah satunya adalah Serat Centhini. Pada tahun 1960-an, Amba termasuk gadis yang berpikiran modern pada zamannya. Kuliah, meniti karir, dan tidak terburu-buru menikah walaupun orang tuanya sudah kesengsem untuk memiliki menantu sebaik Salwa.
Akan tetapi ketika Amba harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Salwa, apa yang terjadi ketika dia bertemu dengan dokter muda lulusan Universitas Leipzig, Bhisma Rashad? Akankah kisah mereka bertautan seperti kisah dalam Mahabharata? Bagaimana dengan nasib Salwa?
---------------------------------------------------------------
Kisah Amba ini diceritakan dengan setting waktu yang beraneka ragam, masa kini, masa kecil Amba, dan masa dewasanya yang dihabiskan pada tahun 1965, ketika gejolak komunis sedang bangkit di negeri ini. Walaupun pada dasarnya cerita ini adalah cerita cinta, bisa dibilang cinta segitiga, akan tetapi penceritaan yang baik tentang latar belakang sejarah yang terjadi pada saat itu, seperti G30S, membuat buku ini semakin menarik. Dari awal buku, kisah diambil dari masa kini, ketika Amba tiba di Pulau Buru, mencari keberadaan Bhisma yang katanya terakhir kali berada di pulau itu. Awal buku sudah berhasil membuat saya penasaran dengan nasib Bhisma, apa yang terjadi dengan Amba dan Bhisma, dan mengapa Bhisma tidak kembali ke Pulau Jawa ketika masa tahanan di Pulau Buru berakhir.
Menurut saya premise ceritanya cukup sering ditemukan, kisah cinta, cinta setiga, cinta terlarang, dengan latar belakang politik, ekonomi dan sosial budaya. Yang membuat buku ini menjadi berbeda adalah gaya bahasa Laksmi Pamuntjak yang menurut saya sangat indah dan misterius. Selain itu, Laksmi berhasil menyisipkan peristiwa-peristiwa penting, hasil riset, yang betul-betul terjadi pada jaman tersebut. Setting waktu pun dibuat maju mundur, antara flashback dan flash forward, sehingga pembaca dibuat penasaran, apalagi sudut pandang yang dipakai pun diambil dari beberapa orang. Selain itu, Laksmi menurut saya sangat berhasil menggambarkan Pulau Buru dengan sangat personal, sehingga kita tahu, tidak ada yang berubah dengan pulau itu walaupun berpuluh tahun telah lewat sejak dijadikan kamp tahanan para tahanan politik. Hubungan Amba dengan keluarganya juga merupakan salah satu back story yang menarik, dimana setiap tokoh keluarganya memiliki karakter yang unik, bapaknya yang pencinta kitab Jawa, ibu Amba yang patuh kepada suami namun diam-diam memiliki kenangan masa lalu yang sampai saat ini membayangi, dan adik kembar Amba, Ambika yang lincah dan pencinta pria, dan Ambilika yang pendiam.
Akhir cerita, kita pun bisa tahu apa yang terjadi dengan Bhisma, dengan Amba yang tidak pernah berhenti mencintainya, siapa tokoh Srikandi yang tiba-tiba muncul di akhir buku, dan bagaimana akhir yang bahagia terjadi wakaupun tidak secara semestinya. Saya sangat setuju dengan tulisan ini, "Laksmi menampilkan sejarah Indonesia yang bengis, tetapi justru dengan manusia-manusia yang mencintai."
Amba. 4 of 5 stars.
Labels:
fiction,
fiction history,
love
Monday, December 17, 2012
Antologi Rasa by Ika Natassa
Disclaimer
I felt very woman when I read this book, so this review maybe had very woman-vibe in it. Try to read it from perspective of a woman.
I've read this book for a while, forgot about that, and re-read it yesterday night, while accompanied by some mellow songs. Suits the book very well. Probably you'll sob out loud, so never, never try to do both things (read the book and listen those kind of broken heart music) while you're sad. Or broken heart of course.
![]() |
| I saw a new cover, did they really change its cover? But I prefer this one actually. |
Summary
Three best friends. A Question. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?
Keara
We're both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe.
How can we be so different and feel so much alike, Rul?
And tonight, three years after the night that made me fall in love with you, my dear, and here I lay staring at the stars in the Singapore sky, and I still love you. And you may never know.
Ruly
What I'm not telling you Keara, until now, the only moment I could be happier and relieved is when someday I enter the hospital room and Denise is holding our new baby she gave birth. What I am not telling you is a feeling of warmth I felt in the chest when the nurse woke me up at dawn and said, "Sir, your wife was conscious," and that I was not even having slightest intention of correcting the statement. Dream on, Rul.
Harris
Happiness in my version: see you laughing. In your version: Maybe I'll never know. Because every time I try to do sweet things that I do with other women throughout history who never fails to make them falling for me, all I heard for you is, "Harris darling, please, keep your sweet things. Go back being the chauvinistic jerk that I love. "
That's probably as close as I can get to hearing that she loves me.
----------------------------------------------------------------------------------------------
This story is written from everyone's perspective, but I love Keara's most. She's typical urban working woman, working as an account officer in an international bank, thinking that her job is something that helps her to get those Kate Spades for her closet, and something she does between the weekend. Love photography. She loves her best friend, Ruly. Too bad, Ruly is in love with their best friend, Denise. And Harris, who also happen to be their best friend too, falls into Keara.
Typical love square story huh?
But, it's not.
From the very beginning, Ika Natassa has already brought me into her world. She told romantically how airport means for everyone, what travel should teach you about. She is a romantic story-teller. I love how Keara (yes, my favorite character) being told to have such as photographic memory, when she's able to remember all the details from everything she love, the first time she felt in love with photography, first time she met Ruly, what clothes he wear exactly, and their first conversation who made her fall'n love with him. Keara, while she has similar and not very similar background with me (I also happen to be a banker, but I am not a bitch like her, of course!), with her charm and tempting figure, turns out to be like every ordinary girl who is falling in love. Remember when you feel that everywhere you go, when you close your eyes, and you'll see only him? And every time you listen a song, you'll think it's about you and him. Ika perfectly creates an universe when we feels we are Keara. Hopelessly want that every thing would be fall perfectly into places we want.
Love every details Ika put at Keara's travel, F1 show in Singapore, business trip to Bali, getaway with Ruli in Ubud, John Meyer's concert in Manila. I feel like Ika is really putting herself in Keara's shoes, since I was reading somewhere that she loves traveling and photography too. Keara's life style is too metropolis for me, but I still be able to enjoy it as well.
I thought, people will be torn into two team, good guy Ruly, and bad boy, Harris. As much as I love bad boy, but Ruly takes special position in my heart, because from the beginning, he was the one who always closed himself, an introvert one, so we had no idea about his feeling. I know he has special feeling for Denise, but I can't resist from all magical moment which happened between him and Keara. As a hopelessly romantic person, I really want a happy ending though. For everyone.
Meanwhile, Harris, has his own persona. Of course, he's a jerk, and I don't like what he did to Keara at the early chapter, but step by step, he proves that he's a good friend. And he deserves Keara.
So in the end, the maturity will bring everyone into a decision. It maybe not a happy ending, but surely it's the best for everyone. And the best ending is who gives you an open probability to keep the future changing to follow its nature. Find happiness.
PS. I created a playlist to company me reading this book, because Ika inserted many songs inside her book, so it's really appropriate to compile both of them. Try "Edge of Desire" by John Meyer. It works perfectly!
Wednesday, April 4, 2012
The Girl who Played with Fire by Stieg Larsson
Setelah ngos-ngosan menyelesaikan buku pertama selama 2 minggu, dan hampir menjerit nggak puas karena endingnya gantung abis, akhirnya suami berbaik hati untuk membelikan dua buku terakhir dari Millennium series ini. Buku kedua sendiri sukses dilalap selama sehari, sepanjang perjalanan dari Jakarta-Sukabumi.
Hasilnya? Buku kedua ini beyooooond the expectation. Bagus banget! Jauuuh lebih bagus dari buku pertamanya! Hehe, lebay yah? Abisnya saya benar-benar nggak bisa lepas dari buku ini sampai halaman terakhirnya selesai dibaca (dan masih juga pake jeritan nggak puas karena endingnya masih ngegantung Sodara-sodara! Oh, really??).
Buku dibuka dari kurang lebih setahun sejak peristiwa di akhir buku satu. Mikael kembali bekerja di Millennium, tetap menjadi seorang womanizer, sedangkan Lisbeth Salander sendiri dalam status hilang ditelan bumi.
Milennium menerima artikel yang menarik dari seorang penullis freelancer bernama Dag Svensson. Svensson mengangkat tentang penculikan gadis-gadis di bawah umur dan penggunaan mereka sebagai pekerja seks komersial, dibantu oleh kekasihnya, Mia Johansson yang sedang menyusun tesis dengan tema yang berkaitan. Svensson juga menawarkan hak penerbitan kepada penerbit Millennium, yang disambut baik oleh Mikael dkk. Masalah mulai terjadi disaat pada saat artikel dan buku tersebut nyaris selesai, Svensson dan Johansson ditemukan tewas di rumah mereka. Tebak siapa yang menjadi tersangka? Di senjata pembunuh, ditemukan sidik jari dari Lisbeth Salander!
Bingung dengan penemuan ini, Mikael mencoba membuktikan bahwa Salander tidak bersalah. Hal ini sulit dilakukan, karena selain tidak diketahui keberadaanya, masa lalu Salander yang cukup kelam dan arsip mengenai ketidakwarasannya menguatkan kecurigaan polisi bahwa dia benar-benar pelakunya. Mengetahui bahwa Salander tidak mungkin membunuh orang yang sedang memperjuangkan kebebasan wanita, seperti yang selama ini dia yakini, Mikael melakukan segala cara untuk mengontak Salander dan mencari tahu siapa sebenarnya yang ada di balik pembunuhan kedua penulis ini.
Belum selesai Mikael mencari, pembunuhan ketiga terjadi. Korbannya adalah wali Salander. Salander pun ditetapkan sebagai tersangka utama, dimana fotonya disebarluaskan di seluruh pelosok Swedia. Mikael pun mulai bimbang, apakah Salander benar-benar tidak bersalah? Dimanakah Salander? Siapakah yang bertanggung jawab dengan semua pembunuhan itu dan mengapa mereka menginginkan Salander terlihat bersalah?
Buku kedua ini dimulai dengan kehidupan Salander setelah kasus di buku pertama selesai (tidak akan saya ceritakan lengkap, karena takutnya jadi spoiler untuk yang belum baca buku pertama). Salander dan Blomkvist menjalani kehidupannya masing-masing, walaupun Blomkvist masih belum mengerti kenapa tiba-tiba Salander menarik diri dan memutuskan semua komunikasi dengannya.
Di buku ini juga kita mulai menguak kehidupan Lisbeth Salander di masa lampau, mengapa steorotip tidak waras dibebankan kepadanya. Kemana orang tuanya. Apa yang terjadi dengan kembarannya. Yups, Lisbeth ternyata ada dua! Satu persatu misteri kehidupan Lisbeth terungkap, dimulai dari peristiwa yang dia sebut "Awal Segala Laknat" yang merupakan awal mula dari kehidupannya yang sekarang, dan ternyata berkaitan dengan seluruh peristiwa yang terjadi pada dirinya selama ini.
Misteri yang dibangun sangat baik, plot lambat namun tidak membosankan. Larsson dengan apiknya mengangkat salah satu topik yang hangat di Swedia yaitu perdagangan gadis di bawah umur, dan industri seks komersial. Yang uniknya, meskipun Lisbeth dan Mikael tetap menjadi tokoh utama, mereka tidak bekerja bersama-sama lagi dalam jarak dekat seperti buku utama. Mereka bahkan tidak saling bertatapan muka hingga halaman terakhir buku ini dibuka. Serius. Saya sampai gemas sendiri menunggu pertemuan mereka. Walau begitu, Larsson tetap sukses membangun chemistry antara dua tokoh utama ini walau mereka berdua hanya berhubungan lewat dunia maya.
Can I give this book 5 stars from 5? Satisfied a lot with this one, dan mudah-mudahan buku ketiganya bisa memenuhi ekspetasi saya setelah membaca buku kedua ini. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)












